Apa Bedanya Hutang Produktif dan Konsumtif? (Perbedaan dan tips)

0
2978
Bedanya Hutang Produktif dan Konsumtif

Bedanya Hutang Produktif dan Konsumtif – Hutang itu seperti pisau. Ia dapat menyejahterakan hidup, namun sekaligus dapat mengakhiri nafas kita.

Berhutang pun bila dilakukan dengan benar dan hati-hati, akan membantu mengembangkan harta kekayaan Anda. Sebaliknya, jika berhutang secara sembarangan, hutang dapat membuat hidup jadi melarat.

Kita tidak boleh berhutang bila hal itu menyebabkan hidup jadi melarat, atau mengganggu keseimbangan neraca keuangan Anda.

Namun tidak semua hutang itu buruk. Ada juga hutang baik, yang membuat kehidupan Anda jadi lebih maju dan menyehatkan kondisi keuangan. Yang terpenting, Anda tahu bedanya mana hutang yang produktif, dan mana hutang yang konsumtif.

Namun seperti apa hutang yang produktif, dan seperti apa pula hutang yang konsumtif? Bagaimana tips agar berhutang dengan aman?

Yang pertama, mari kita bahas sedikit mengenai hutang produktif.

Hutang produktif adalah meminjam uang dengan tujuan agar uang tersebut dapat diputar untuk meningkatkan tambahan pemasukan. Dalam hal ini misalnya untuk modal usaha atau investasi. Artinya, jika Anda berhutang semacam ini, tujuan Anda adalah agar Anda dapat memiliki tingkat pemasukan yang lebih besar.

Lalu, apa saja yang dapat dikatakan sebagai hutang produktif? Contoh mudah adalah Anda meminjam uang dari bank atau saudara. Pinjaman uang ini dimaksudkan untuk memulai modal usaha. Nah, dari keuntungan usaha ini Anda membayarkan hutang tersebut. Jika kelak lunas, keuntungan dari usaha ini dapat Anda nikmati sendiri, untuk diputar lagi dalam bentuk bisnis yang lain, atau memenuhi kecukupan kebutuhan keluarga.

Lalu, apa itu utang yang konsumtif?

Ini adalah jenis hutang yang kurang baik. Termasuk di antaranya hutang konsumtif adalah menggunakan uang untuk kebutuhan konsumsi. Hutang semacam ini tidak dapat diputar, dan tidak dapat menaikkan aset yang sudah Anda punya.

Hutang dapat dikatakan konsumtif apabila hutang tersebut hanya digunakan untuk membiayai kebutuhan yang kurang perlu. Misalnya adalah meminjam uang untuk membeli gadget, pergi liburan, membeli sepatu mahal, atau beli pakaian mahal.

Hal semacam ini tidak memberikan manfaat secara finansial. Malah, yang ada hanya mengganggu cashflow Anda.

Hutang yang baik adalah bila hutang tersebut digunakan untuk meningkatkan taraf hidup yang sesungguhnya, dalam arti meningkatkan tambahan pemasukan. Hutang untuk meningkatkan taraf hidup yang semu, seperti bermewah-mewahan, hanya akan mengganggu keseimbangan neraca keuangan. Masih cukup baik bila Anda mampu membayar hutang. Jika tidak bisa?

Tips dalam Berhutang

Seperti yang sudah disebutkan, bahkan dalam berhutang produktif sekalipun Anda perlu berhati-hati. Salah-salah, meskipun hutang Anda diniatkan produktif, Anda malah tidak bisa membayar.

Ada beberapa tips berhutang yang harus Anda perhatikan. Beberapa tips tersebut adalah:

1. Amati rasio hutang dengan penghasilan

Jika memilih berhutang, perhatian bahwa total hutang tidak boleh lebih besar dari 35% penghasilan Anda. Jika saat Anda berhutang lebih besar dari itu, katakanlah 45%, Anda sudah masuk dalam zona merah.

Contohnya jika Anda punya penghasilan Rp 5 juta sebulan, maka jumlah hutang yang boleh Anda ambil:

Rp 5.000.000 x 35% = Rp 1.750.000

2. Amati rasio total hutang terhadap total aset.

Sebenarnya bagaimana kita mengatakan sebuah hutang termasuk hutang yang besar?

Setiap neraca keuangan terdiri dari aset dan liabilitas. Jika nilai hutang lebih besar dari nilai aset, maka akan ada kesulitan dalam membayar hutang tersebut. Malah arus kas Anda akan timpang.

Ini dapat menyebabkan kebangkrutan. Perhitungan hutang dapat dihitung dengan membagi total hutang terhadap total aset.

Katakanlah Anda memiliki total hutang sebesar 10 juta dan aset sebesar 20 juta. Maka, rasio hutang Anda adalah :

hutang/aset = 10 juta/20 juta = 0,5

Dari rasio ini dapat diketahui bahwa ada 0,5 hutang dalam setiap 1 pemasukan. Mudahnya, ada Rp 500ribu hutang dalam satu juta aset. Semakin kecil rasio, maka akan semakin bagus. Artinya, Anda tidak punya hutang yang terlalu besar.

3. Amati rasio penghasilan bersih terhadap pembayaran hutang

Mengukur kemampuan Anda dalam berhitung tidak hanya dilihat dari aset yang Anda punya, namun juga pada penghasilan bersih yang Anda dapat tiap bulannya.

Misalnya penghasilan bersih Anda dalam sebulan adalah Rp 5 juta, dan pembayaran hutang, termasuk hutang pokok dan bunga adalah Rp 1,75 juta. Maka rasionya adalah:

Penghasilan bersih : pembayaran hutang = Rp 5 juta : Rp 1,75 juta = 3.7.

Artinya, ada 3.75 juta penghasilan bersih untuk tiap Rp 1 juta yang Anda bayarkan untuk membayar hutang. Rasio tinggi menunjukkan kekuatan membayar hutang.

Apa yang harus dilakukan jika sudah terlilit hutang konsumtif?

Katakanlah Anda sudah memiliki hutang konsumtif dan ingin lepas darinya. Apa yang harus dilakukan?

Yang pertama yang perlu  dilakukan adalah mengurutkan hutang dari yang berbunga besar hingga ke yang tidak berbunga. Prioritaskan untuk melunasi hutang dengan bunga besar dulu, baru beranjak melunasi bunga yang kecil, hingga yang tidak berbunga.

Lihat dari besaran bunganya, bukan dari hutang pokoknya.

Apabila rasio hutang terlalu besar hingga Anda tidak bisa melunasinya dari pendapatan, pertimbangkan untuk mulai menjual aset yang Anda punya.

Tidak masalah sebenarnya bila ingin melakukan hutang konsumtif, asalkan hutang yang Anda ambil tidak lebih besar dari 35% dari pendapatan, seperti yang disebut tadi.

Yang paling penting dalam membayar hutang adalah kedisiplinan untuk melunasinya tiap bulan. Jika Anda membayar hutang tepat waktu, hutang tak akan mengganggu kesehatan neraca keuangan Anda.

Untuk ke depannya, disarankan Anda untuk melakukan manajemen keuangan. Jika mulai berpikir untuk berhutang dengan biaya besar, entah itu untuk keperluan pribadi maupun bisnis, Anda bisa menghubungi Jasa Financial Planner yang ada di Halojasa.

Facebook Comments
love
Senang
0%
haha
Terinspirasi
66%
wow
Netral
0%
sad
Sedih
33%
angry
Marah
0%